BEM FPIK UB Adakan Program Kerja Kumpulkan Sampah untuk Beasiswa

Teramala.id-Salah satu program kerja Mentri Lingkungan Hidup dari Badan Eksekutif Mahasiswa, Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan, Universitas Brawijaya membuat serangkaian program kerja yang tergolong win-win solution. Yaitu kampanye “Bahaya Sampah Plastik” dan anjuran penggunaan tumblr. Namun tak hanya sekedar mengumpulkan sampah, proker kementrian lingkungan hidup dari BEM FPIK UB ini juga menggalangkan dana sebagai hasil dari pengumpulan sampah yang di jualkan ke bank sampah terdekat. Daffa Geza (22) selaku wakil mentri lingkungan hidup, BEM FPIK UB mengatakan bahwa “kampanye ini diadain sama kementerian lingkungan hidup BEM FPIK, UB dalam bentuk pengumpulan sampah botol, pick up sampah ke pihak yang udah ada kerjasama, dan campaign di ig tentang bahaya sampah plastik serta campaign yang menganjurkan untuk menggunakan tumblr. Nantinya uang yang di dapat (dari hasil pengumpulan sampah) di salurkan sebagai beasiswa untuk mahasiswa FPIK” ujarnya.

Sumber : Dokumentasi BEM FPIK UB, Divisi Kementrian Lingkungan Hidup)
Caption : Safhira, Divisi Kementrian Lingkungan Hidup BEM FPIK, UB (Kiri) dan pengelola gerai fotocopy sedang pick-up sampah

Sebagai divisi yang bergerak di bidang pemeliharaan dan pelestarian lingkungan, kementrian lingkungan hidup BEM FPIK UB telah senantiasa mengupayakan Langkah-langkah kreatif untuk menggerakkan mahasiaswa FPIK agar sadar lingkungan. Mengingat ranah universitas merupakan salah satu penyumbang sampah yang tinggi, dengan langkah kecil yang dapat di lakukan seperti di lingkungan kampus, mengumpulkan sampah-sampah berupa kertas, plastik dan botol menjadi upaya yang paling mudah di lakukan. Merujuk penelitian di Amerika, setiap mahasiswa rata-rata menghasilkan 640 pound atau 290,56 kg sampah padat tiap tahun, termasuk 500 botol minuman bekas, 320 pound atau 145,28 kg sampah kertas. Belum di peroleh data berapa besaran sampah, terutama plastik, dari kampus di Indonesia, kemungkinan cukup besar. Menurut peneliti Jenna Jambeck dari Universitas Georgia, Amerika Serikat, Indonesia penghasil sampah plastik ke laut kedua terbesar dunia. Tiongkok berada di urutan pertama dan Filipina ketiga.

Daffa juga menyampaikan bahwa proker mingguan yang terlaksana tiap hari rabu ini mendapat antusias yang luar biasa dari berbagai pihak, “proker ini ternyata banyak yang antusias ya. Mulai dari dosen juga ikut nyumbang sampah dari tong sampah ruangannya, dari fungsionaris BEM juga ga kalah bonding-bondong setor sampah, dan tentunya temen-temen FPIK yang lewat dan lihat juga jadi buang sampah di kita” jelasnya. “Namun ada juga beberapa yang masih terlihat malas dan cuek saja untuk ada rasa kaingin tahuan tentang proker ini, padahal ini juga sebagai pemantik teman-teman untuk lebih sadar lingkungan” tambahnya.

Proker kampanye mengumpulkan sampah ini juga bekerja sama dengan berbagai pihak yang menghasilkan sampah seperti gerai foto-copy dan kedai kopi. Karena dua bidang usaha tersebut sebagai penghasil sampah kertas dan plastik. “Kita juga kerjasama dengan fotocopy di dekat kampus dan kafe untuk dapat sampah plastik dan kertas” ujar Daffa.

Terhitung kurang lebih satu tahun sudah berjalannya proker kementrian lingkungan hidup BEM FPIK. Seakan sudah menjadi kebiasaan mingguan mengumpulkan sampah, dana yang dihasilkan untuk beasiswa juga sudah dirasakan oleh sejumlah mahasiswa terpilih. “Sampah yang di jual ke bank sampah terakhir kita kumpulkan sebesar 2 juta rupiah dan di alokasikan ke mahasiswa terpilih sebagai mahasiswa FPIK” ujar Daffa. Daffa juga menambahkan bahwa hal ini juga merupakan salah satu indikator keberhasilan proker kampanye sampah beasiswa dari divisi kementrian lingkungan hidup BEM FPIK, Universitas Brawijaya.        

Seperti halnya, Khoerul Imam (21) sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Departement Sosial Ekonomi Perikanan dan Kelautan (HIMASEKA) juga turut berpartisipasi dalam proker milik BEM FPIK ini. “Jadi wakil kementrian lingkungan hidup BEM FPIK nge-floor kan prokernya ke ketua HMPS lainnya agar informasi ini di dengar secara merata sama teman-teman lainnya, agar banyak yang ikut kampanye ini juga” tuturnya saat bertemu di Gedung FPIK oleh tim Teramala pada 2 Juli kemarin. Tak hanya Koerul, salah satu mahasiswa FPIK Bernama Deval  (20) “Semenjak tau ada proker ini, sengaja tiap hari rabu bawa sampah plastik sendiri dari kost-an, setidaknya ingin membantu walau dari hal kecil sekalipun “ ujarnya.

Organisasi merupakan salah satu wadah untuk self improvement bagi mahasiswa. Pula untuk mengembangkan kapasitas kemahasiswaannya berupa aspirasi, inisiasi atau gagasan-gagasan positif serta kreatif. Melalui program kerja yang di rancang tak semata untuk meningkatkan self skill, namun juga memiliki tujuan yang bisa di rasakan bersama. Kampanye mengumpulkan sampah memang bukan suatu hal yang baru, namun mengingat tujuannya yaitu menjaga lingkungan, rasanya tiap kegiatan yang terselenggrakan haruslah tetap di informasikan. Nampaknya, BEM FPIK UB sedang mencoba memanfaatkan kesempatan program kerjanya dengan sefektif dan sefesien mungkin. Daffa juga berharap, tak hanya mahasiswa FPIK saja yang harus memulai kesadaran untuk menjaga lingkungan. Baginya, menjaga lingkungan adalah tujuan utama, jika ada manfaat dari aspek lain yang dapat di hasilkan itu merupakan bonus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *