Tips Anti Food Waste: Out of Sight, Out of Mind di Kulkasmu!

Teramala.id-Kita selalu diingatkan untuk mengambil atau membuat makanan yang sesuai dengan porsi kita agar makanan tersebut habis tidak tersisa. Selain karena terlalu kenyang tidak baik untuk kesehatan, namun juga agar tidak membuang-buang makanan dengan percuma. Atau dari kecil kita selalu diingatkan untuk menghabiskan makanan kita, dengan embel-embel bujukan seperti “kalau tidak habis, nasinya nangis lho” ternyata setelah di kulik lebih dalam, perumpamaan “nasi menangis” adalah sebuah upaya untuk mengurangi food waste sedari kecil. Apa itu food waste?

sumber : istimewa

Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), food waste adalah sampah makanan yang dihasilkan di tingkat konsumen, atau dikenal sebagai  food loss yang dilakukan oleh produsen. Food waste terjadi di sepanjang rantai pasokan makanan. Pada tingkat produsen, food wastete jadi pada proses produksi dan proses panen karena faktor lingkungan sampai pemilihan buah atau sayuran. Sedangkan pada tingkat konsumen, dari pengemasan dan pengawetan makanan yang buruk sampai konsumsi makanan yang berlebihan dapat mengakibatkan food waste. Jadi singkatnya,  food waste adalah makanan yang sudah siap dikonsumsi namun malah dibuang begitu saja dan menumpuk di TPA. Di Indonesia sendiri merupakan negara terbesar urutan ke-3 setelah Arab Saudi dan Amerika Serikat penghasil food waste! Menurut Laporan Bappenas 2021, food loss dan food waste Indonesia selama 2000 – 2019 mencapai 150 – 184 kg per kapita pertahun yang harusnya bisa memberi makan 30% – 40% populasi kita,” tuturnya. Jumlah itu dikatakan setara pula dengan 4% – 5% GDP Indonesia. 

“Apasih penyebab food waste?” nah sesuai dengan Namanya, food waste yaitu sampah makanan yang menumpuk karena hal-hal disekitar kita atau bahkan kita juga melakukannya namun tidak disadari. Seperti tidak menghabiskan makanan kita, membeli atau membuat makanan yang tidak kita sukai, mengambil porsi makan yang terlalu banyak dan gengsi menghabiskan makanan di depan umum. Jika hal ini dilakukan oleh satu individu, kemudian dalam satu lingkup keluarga, atau bahkan sekelompok orang makan akan semakin banyak makanan yang terbuang dan menjadi sampah yang menumpuk. Sampah makanan di TPA menghasilkan gas metana dan karbondioksida. Kedua zat tersebut tidak baik untuk kesehatan lingkungan. Menurut World Wide Fund and Nature (WWWF, n.d) saat sampah makanan dibuang, maka sampah akan terkubur dan membusuk. Pada tumpukan sampah yang membusuk itulah terbentuk gas metana yang akan merusak lapisan ozon bumi. Hal ini dikarenakan gas metana setara dengan gas-gas pada rumah kaca yang dapat merubah iklim. Pembakaran sampah  makanan juga dapat menghasilkan CO2, N2O, NOx, NH3, dan karbon organik. CO2 menjadi gas utama yang dihasilkan oleh pembakaran sampah dan dihasilkan cukup lebih tinggi dibandingkan emisi gas lainnya.

sumber : Istimewa

Selain menjadi permasalahan yang serius pada dampak lingkungan, food waste juga menjadi permasalahan tingkat kelaparan di Indonesia.  Mentri Perencanaan Pembangunan Nasional sekaligus Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, menyatakan limbah makanan yang terbuang di Indonesia selama  2000-2019 mencapai 23-48 juga ton per tahun. Ironisnya, jumlah tersebut meningkat seiring tahun dan sejatinya bisa menyelamatkan kurang lebih 27 juta perut saudara kita yang mengalami krisis kelaparan. Apalgi menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) tahun 2018 angka balita yang mengalami gizi buruk adalah 17,7 persen, artinya sampai sekarang ini masih terdapat 18 dari 100 balita terindikasi kekurangan konsumsi pangan pada sebagian penduduk Indonesia, angka tersebut masih cukup tinggi dan belum mencapai target yang seharusnya.

Lalu gimana sih agar mengurangi food waste? Kita dapat mengurangi food waste dengan mengedukasi diri kita sendiri. Seperti membuat list rencana belanja, dengan begitu kita tidak akan membeli makanan yang sebenarnya tidak kita inginkan atau hanya karena lapar mata. Yang kedua adalah “mindfull”  dalam konsumsi makanan dan menghabiskan porsi makan sesuai kebutuhanmu. Yang ketiga, menerapkan pengaturan FIFO atau yang biasa disebut First In First Out di kulkas mu!. FIFO adalah management penyimpanan makanan dimana barang yang pertama kali masuk kulkas juga harus menjadi makanan yang pertama kali keluar atau digunakan. Misalnya, letakkan sayur dan buah-buah an yang baru kamu beli di di belakang buah dan sayuran yang sudah ada sebelumnya. Bisa juga meletakkan bahan makanan yang baru dibeli di urutan paling bawah, agar bahan makanan sebelumnya yang sudah tersimpan dapat terlebih dahulu digunakan. Kita juga dianjurkan untuk sering menata bahan-bahan atau makanan di kulkas agar kita mengetahui mana saja yang harus segera dimakan agar tidak terbuang dengan sia-sia. Cara ini dinilai merupakan cara paling efektif dalam mengurangi food waste.

sumber : Istimewa

Saat diri kita sudah aware akan permasalahan food waste, kita juga bisa mulai bergabung dengan berbagai organisasi untuk membatu memerangi food waste Di Indonesia sendiri telah ada Garda Pangan di Surabaya dan juga The Hunger Bank yang berdiri di Bandung dan sudah memiliki 60 orang relawan yang membantu di berbagai kota, dan masih banyak lagi komunitas lain yang memerangi food waste di Indonesia. Yuk selamatkan bumi dengan habiskan makanan mu!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *