Green Woman, Pahlawan Perempuan Pelindung Lakardowo

Teramala.id-Konflik antar Warga Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto dengan PT. PRIA terkait pengelolahan limbah B3 sudah mengalami stagnasi lebih dari 8 tahun. Peseroan Terbatas itu memang bergerak dalam pengolahan limbah B3, namun dalam prosesnya di temukan tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999, sebagaimana tertera pada ketentuan umum (pasal 1) Nomor 16 tentang pengolahan limbah B3 yang berbunyi “Pengolahan limbah B3 adalah proses untuk mengubah karakteristik dan komposisi limbah B3 untuk menghilangkan dan/atau mengurangi sifat bahaya dan/atau sifat racun.

Kenyataanya, PT.PRIA dinilai belum memenuhi standarisasi dalam proses pengolahan limbah B3 yang berakibat pencemaran udara dan air di Desa Lakardowo. Terbukti dari kandungan air di wilayah tersebut mengandung limbah beracun seperti Karsinogenik, Teratogenik dan kandungan berbahaya serta beracun lainnya. Hal ini mengakibatkan kondisi lingkungan Desa Lakardowo menjadi tidak sehat, bahkan banyak warga yang mengalami iritasi kulit saat menggunakan air tersebut.

Hal ini tidak membuat warga jadi tunduk, Sutamah (47) bersama-sama dengan warga lainnya membentuk Gerakan Green Woman untuk melakukan sejumlah aksi protes yang di tujukan pada PT. PRIA agar mempertanggungjawabkan kerusakan lingkungan yang di buatnya. “Awalnya gak ada niatan bikin itu. Cuma sering kumpul bahas isu lingkungan dan nyusun strategi unjuk rasa. Tapi sering di bubarkan, akhirnya warga di bantu Direktur Ecoton, Mas Prigi bikin Green Woman” ujar Sutamah, perempuan kelahiran asli Desa lakardowo itu. Tak hanya itu, Sutamah juga mengatakan bahwa terbentuknya gerakan sosial tersebut merupakan salah satu ide yang dicetuskan oleh Direktur Ecoton, mas Prigi yang juga membantu warga untuk melakukan penelitian lingkungan Desa Lakardowo kala itu.

Pada awalnya, tahun 2016 warga mulai menyusun strategi atas kesadaran kolektif untuk menyelamatkan lingkungan dengan membentuk gerakan sosial KPPL (Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan) dan “Pendowo Bangkit” (Penduduk Lakardowo Bangkit). Namun terdapat perubahan nama dari KPPL menjadi Green Woman, “Awal namanya Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan, tapi kami menemukan ada kelompok aktivis lingkungan dengan nama yang sama di beda daerah, jadi akhirnya kami sepakat untuk diganti jadi Green Woman” tuturnya.

Green Woman dan Pendowo Bangkit justru terbentuk dari para perempuan-perempuan lakardowo yang paling merasakan dampak dari llimbah B3 yang mencemari lingkungannya. Sutamah berkata bahwa, “Kami perempuan-perempuan di sini yang paling merasakan dampaknya limbah B3 itu. Karena kita kan sehari-hari bertani, masak, mandiin anak yang mana pakai air yang tercermar” ujarnya. Tidak sendirian, Sutamah juga dibantu Rumiyati (43) dalam melakukan gerakan sosial yang terbentuk dalam Green Woman, “Saya dan Bu Sutamah ini sering memata-matai aktvitas pabrik sampai kejar-kejaran sama orang pabrik buat jadi menyelidiki gimana sih proses pengolahan limbah B3 nya kok sampai mencemari lingkungan” ujar Rumiyati. Ia bahkan mengaku kerap kali kucing-kucingan dengan para karyawan PT. PRIA agar tidak ketauan dalam melakukan aksi mata-matanya.

Tidak punya Lelah, Green Woman sudah melakukan puluhan kali aksi unjuk rasa untuk mencari Keadilan untuk Desa Lakardowo. Saat kami wawancarai pada Jumat, 23 Juni kemarin, Sutamah dan Rumiyati mengaku tidak akan pernah lelah menuntut keadilan selama nafasnya masih berhembus. Bahkan, Sutamah juga mengatakan “Harusnya anak-anak muda di Desa Lakardowo juga ikut berperan, tapi kalau memang tidak ada ya saya dan teman-teman Green Woman tidak akan mundur juga meskipun udah tua gini” tegasnya. Hingga saat ini, Green Woman aktif melakukan unjuk rasa di berbagai tempat seperti di depan kantor Gubernur Jawa Timur, DPRD Jawa Timur, Dinas Lingkungan Hidup Jawa Timur, PTUN, Istana Negara dan tentu saja di depan pabrik PT. PRIA. Semua dari unjuk rasa tersebut memiliki satu tuntutan yaitu menolak PT.PRIA dan gugatan penimbunan limbah B3 di Desa Lakardowo, Kec. Jetis, Kab. Mojokerto.

Setiap aksinya, Green Woman tidak lupa untuk mengidentitaskan diri sebagai kaum petani dengan menggunakan pakaian tani, membawa capil dan peralatan bertani, atau membawa patung padi berwarna hitam yang melambangkan seluruh hasil panen yang tercemar oleh penimbunan limbah B3. Ada pula aksi bungkam yang di lakukan dengan berduduk berdiam diri depan gerbang gedung pemerintahan sejak pagi hingga pagi lagi. Aksi bungkam tersebut merupakan salah satu strategi melawan dengan tuntutan bertemu Gubernur (Jawa Timur)  dan dapat langsung mengemukakan protesnya kepada Gubernur (Jawa Timur) sehingga warga yang demo tidak kelelahan meski melakukan aksi dalam cuaca panas siang hari dan bertahan dari pagi hingga sore hari.

Tak hanya unjuk rasa, Green Woman juga aktif dalam melakukan pengukuran kualitas kadar air dan pemetaan penyakit kulit warga Desa Lakrdowo. Rumiyati yang tergolong dalam organisasi Green Woman itu mengatakan “Kami rutin ngukur TDS meter dan pH air dan pemetaan penyakit kulit warga. Kan banyak yang melepuh-melepuh karena air yang tercemah limbah B3 dari timbunan.” Tuturnya. Tim Ecoton juga mempunyai peran andil dalam seluruh kegiatan Green Woman, mulai dari memberi edukasi limbah B3, menjelaskan tuntutan aksi unjuk rasa dan menganalisa kondisi lingkungan Desa Lakardowo.

Dalam prosesnya mencari keadilan untuk Desa Lakardowo, Sutamah dan Rumiyati bersaksi kerap kali mendapat ancaman dan intimidasi dari aparat. Tak hanya initimidasi dan ancaman bahwa katanya saya ini memprovokasi warga dan mengada-ada”, Sutamah juga mengatakan ia kerap mendapat fitnah. “Saya sering dapat terror telfon gak jelas menyuruh saya untuk berhenti unjuk rasa.  Kata orang yang kerja di pabrik juga pernah laporan ke saya kalau foto saya dan anak saya di pajang di dalam pabrik. Bahkan katanya saya mau diculik” ujarnya sambil ketawa. Ia menambahkan, “Kalau saya mau diculik yasudah culik saja, kalau memang foto saya dan anak saya dipajang, ya monggo sekalian yang banyak” ujarnya santai.

Lebih dari itu, sejatinya aktivis lingkungan memiiliki pendirian yang mereka yakini, yakni mengupayakan kelestarian lingkungan hidup dan seluruh ekosistemnya tanpa terpengaruh dengan bentuk iming-iming apapun oleh siapapun. Seperti halnya aktivis lingkungan Green Woman yang menolak tanpa keraguan atas tawaran kompensasi dari PT.PRIA. Warga khawatir jika uang kompensasi tersebut di terima akan berakibat pada penimbunan limbah yang semakin liar. “Kami tidak akan menerima kompensasi seripis pun. Kami takut itu malah jadi uang untuk kami tutup mulut dalam mencari keadlan?” tutur Sutamah. Mereka lebih memilih perjuangan yang panjang namun dengan niat baik tersebut selalu aka nada titik terangnya ketimbang pasrah melihat tanah kelahiran mereka hancur oleh orang yang tidak bertanggung jawab. “

Semangat dan optimisme dari perempuan-perempuan Lakardowo yang terbentuk dalam Green Woman patut kita apresiasi. Bagaimana tidak, Green Woman sudah konsisten selam lebih dari sewindu tidak Lelah menuntut keadilan. Banyak hal yang sudah di pertaruhkan, banyak pula hal yang sudah di korbankan. Ancaman-ancaman petinggi juga tidak sedikitpun menggoyahkan Sutamah dan anggota Green Woman lainnya. Baginya, perjuangan memang memerlukan waktu yang lama, namun semua akan sebanding untuk masa depan anak dan cucu warga Lakardowo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *