Kota Malang Darurat Ruang Terbuka Hijau

Teramala.id-UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, menegaskan bahwa luas Ruang Terbuka Hijau atau RTH kota minimal 30 persen dari luas wilayah. Turunan dari itu, pasal 16 Perda Nomor 4 Tahun 2011 tentang RTRW Kota Malang di pasal pengatur RTH, luas RTH di pasal 16 adalah minimal 30 persen dari luas keseluruhan Kota Malang, 20% di antaranya merupakan RTH Publik dan 10% di antaranya merupakan RTH Privat.

Di tahun 2022, luas RTH Kota Malang berada di angka 17,73 persen. Dari luas RTH tersebut terdapat sekitar 98 taman kota dan 8 hutan kota yang tersebar di titik yang ada di Kota Malang. Luas wilayah Kota Malang saat ini sekitar 145 km2. Sedangkan lahan yang mampu melakukan resapan air secara efektif hanya sekitar 19,8 km2. Meskipun begitu luas RTH yang ada di Kota Malang belum mampu melampaui capaian yang di tetapkan oleh Undang-Undang tentang Penataan Ruang.

Dikutip dari suryamalang.com Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Noer Rahman Wijaya menyebutkan, ada sekitar 950 m2 Ruang Terbuka Hijau yang saat ini di kelola. Selain itu di kelola oleh pihak BKAD Kota Malang. Lahan 950 m2 berupa taman hingga lahan pemakaman.

“Di tahun ini peningkatan RTH dilakukan dengan penambahan dua lahan pemakaman. Di kelurahan Madyopuro dan Karang Besuki,” jelasnya.

Dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007, menjelaskan penyediaan RTH di maksudkan untuk menjaga keseimbangan sistem hidrologi dan mikroklimat, hingga sistem lainnya. Setelahnya akan meningkatkan ketersidaan udara bagi masyarakat Kota serta meningkatkan nilai estetika dari sebuah Kota.

Upaya Pemerintah Kota Malang untuk memenuhi kebijakan tersebut salah satunya dengan penyediaan sarana, prasarana, utilitas (PSU) dari pengembang property.

suasana jalanan idjen saat car free day. sumber : istimewa

Kepala Bappeda Kota Malang Dwi Rahayu mengajak agar pengembang bisa memberikan PSU ke Pemerintah Kota Malang agar di manfaatkan sebagai kepentingan umum. Catatan Bappeda terdapat 75 PSU pengembang property yang segera beralih menjadi aset Pemerintah Kota Malang.

“Jadi nanti tanah yang masih kosong bisa dimanfaatkan untuk pembangunan taman atau lahan hijau lainnya.” sebut Dwi Rahayu.  

Ruang Terbuka Hijau memiliki peran yang sangat vital bagi sebuah Kota. Terlebih lagi di Kota Malang, walaupun berada di ketinggian antara 440 meter hingga 667 meter di atas permukaan laut nyatanya Kota ini masih sering terkena banjir terutama saat musim hujan. Minimnya Ruang Terbuka Hijau ini menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya banjir di Kota Malang.

Melansir dari hallomalang.id Wakil Walikota Malang Ir. H. Sofyan Edi Jarwoko dalam kegiatan The 5th International Energy Week (IEW) Expo & Summit di Kuching, Sarawak Malaysia mengatakan bahwa Pemkot Malang telah menyiapkan kebijakan pembangunan kota hijau yang berkelanjutan dan Tangguh dalam menghadapi berbagai ancaman bencana.

“Misi pembangunan Kota Malang adalah mewujudkan kota produktif dan berdaya saing, berbasis ekonomi kreatif, keberlanjutan dan keterpaduan. “Komitmen ini terwujud melalui berbagai implementasi seperti Ruang Terbuka Hijau, urban farming, penghijauan, modernisasi TPA Supit Urang, optimalisasi peran bank sampah, digitalisasi layanan air limbah domestik, smart road lighting dan lainnya,” sebut Wawali Sofyan Edi.

Perhatian Pemkot Malang juga tertuju pada pemanfaatan energi terbarukan dan ramah lingkungan untuk fasilitas publik. Sofyan Edi menjelaskan Pemkot Malang sudah melakukan kerja sama penerangan jalan umum yang bertenaga energi surya dan akan di pasang di berbagai titik.

Selain itu, upaya pencegahan untuk mengantitipasi terjadinya bencana telah di siapkan Pemkot Malang. Yaitu program Kelurahan Tangguh, penanganan bencana di lakukan secara terencana, terpadu, dan terkordinasi.di sisi lain, banyak pemukiman seperti perumahan mewah yang semakin menjamur. Tak sedikit juga pemukiman kumuh yang biasanya berada di Daerah Aliran Sungai (DAS).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *