Kurban Ramah Lingkungan

Teramala.id Hari raya idul adha 10 djulhijah 1944 yang jatuh pada tanggal 28 dan 29 agustus kita para umat muslim di dunia ikut merayakan hari besar tersebut dengan sholat Ied di pagi hari dan di dilanjutkan dengan berkurban. Dalam momentum hari besar islam ini kita perlu menyambutnya dengan meriah. Idul Adha adalah hari besar dalam agama islam. Hari ini memperingati peristiwa kurban, yaitu ketika Nabi Ibrahim bersedia mengorbankan putranya Ismail sebagai wujud kepatuhan terhadap Allah SWT. Sebelum Ibrahim mengorbankan putranya, Allah menggantikan Ismail dengan domba. Dan sampai sekarang persitiwa berkurban ini di peringati oleh umat islam dengan berkurban menggunakan hewan ternak seperti sapi, kambing, dan domba.

Dalam kegiatan berkurban kita juga harus tetap menjaga lingkungan dengan ini ialah dengan menerapkan co kurban. Eco Kurban, juga dikenal sebagai “Kurban Ramah Lingkungan” atau ” mengacu pada konsep melakukan ritual keagamaan Qurbani (penyembelihan hewan) dengan cara yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Istilah “kurban” umumnya digunakan dalam tradisi Islam dan mengacu pada pengorbanan hewan selama festival Idul Adha. Ide dibalik Eco Kurban adalah untuk memastikan bahwa hewan kurban dilakukan dengan dampak lingkungan yang minimal dan sejalan dengan prinsip keberlanjutan. Ini termasuk pertimbangan seperti mengurangi limbah, meminimalkan penderitaan hewan, dan memanfaatkan sumber daya secara efektif.

Seperti halnya yang dilakukan oleh SMP Al Azhar 13, mereka menerapkan eco kurban dengan menggunakan wadah dari daun jati dan daun pisang, kemudian dikemas dalam besek. Dilansir dari kumparan.com, Hazard Hanafi Ketua Kegiatan Qurban Al Azhar Jawa Timur, mengungkapkan sejalan dengan program pemerintah Kota Surabaya, pihaknya melarang pengunaan plastik dan kresek seperti yang telah diterapkan di berbagai tokoh dan pusat perbelanjaan di Surabaya.”Kegiatan ini sekaligus mengajak siswa menjaga lingkungan dengan mengurangi sampah plastik yang sulit terurai. Daging yang dibagikan dikemas oleh siswa menggunakan daun jati dan daun pisang, kemudian dikemas dalam besek sebagai tradisi masyarakat terdahulu”.

sumber: kumparan.com

Berikut adalah beberapa praktik yang biasanya terkait dengan Eco Kurban:

  • Perlakuan Etis terhadap Hewan: Hewan-hewan yang ditunjuk untuk kurban harus diperlakukan dengan hati-hati dan penuh kasih sayang. Mereka harus diberi tempat, makanan, dan air yang memadai sebelum pengurbanan dilakukan.
  • Pemeliharaan Hewan Berkelanjutan: Didorong untuk memelihara hewan kurban menggunakan praktik yang berkelanjutan dan etis. Ini bisa melibatkan memberi mereka makanan alami, membiarkan mereka merumput di ruang terbuka, dan menghindari penggunaan hormon atau antibiotik yang tidak perlu.
  • Menghindari Limbah Makanan: Setelah kurban, daging dari hewan harus dibagikan kepada mereka yang membutuhkan, termasuk fakir miskin, tetangga, dan teman. Ini membantu meminimalkan limbah makanan dan memastikan bahwa daging mencapai mereka yang paling diuntungkan.
  • Pembuangan Sadar Lingkungan: Pembuangan kotoran hewan yang benar merupakan aspek penting dari Eco Kurban. Langkah-langkah harus diambil untuk memastikan bahwa limbah ditangani secara bertanggung jawab, seperti pengomposan atau menggunakannya untuk produksi biogas.
  • Mempromosikan Alternatif: Dalam beberapa kasus, individu dapat memilih untuk berkontribusi pada inisiatif ramah lingkungan daripada mengorbankan hewan itu sendiri. Ini dapat melibatkan donasi ke organisasi amal yang menyediakan daging bagi mereka yang membutuhkan, mendukung proyek pertanian berkelanjutan, atau berpartisipasi dalam kegiatan layanan masyarakat.
  • Menggunakan bahan ramah lingkungan: pembagian daging kurban dilakukan dengan menggunakan daun jati dan daun pisang, kemudian dikemas dalam besek sebagai tradisi masyarakat terdahulu

Konsep Eco Kurban mencerminkan tumbuhnya kesadaran akan dampak lingkungan dari aktivitas manusia dan kebutuhan untuk memasukkan keberlanjutan ke dalam praktik keagamaan. Ini memungkinkan individu untuk memenuhi kewajiban agama mereka sambil memperhatikan konsekuensi ekologis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *