Lingkungan Tak Sehat Mempengaruhi Kesehatan Masyarakat, Benarkah?

Teramala.id-Lingkungan memainkan peran yang sangat penting dalam mempengaruhi kesehatan masyarakat. Setiap harinya, kita berinteraksi dengan lingkungan di sekitar kita, baik itu udara yang kita hirup, air yang kita minum, atau tempat-tempat di mana kita tinggal dan bekerja. Semua komponen ini secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi kesehatan kita. Dalam beberapa dekade terakhir, kesadaran akan pentingnya lingkungan dalam menjaga kesehatan masyarakat semakin meningkat.

Penelitian terus menunjukkan bahwa lingkungan yang tidak sehat dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari penyakit pernapasan, gangguan neurologis, hingga penyakit kronis seperti kanker, dibeberapa kasus seperti yang terjadi di Desa Lakardowo, Kabupaten Mojokerto dimana 60% air sumur tercemar limbah B3 dan sulitnya akses air bersih dari luar desa yang mengakibatkan maraknya kasus penyakit kulit. Jadi tidak berlebihan jika kita kualitas lingkungan dijadikan salah satu aspek untuk mengukur kualitas kesehatan masyarakat. Dikutip dari website sehatnegeriku.kemkes.go.id Menteri Kesehatan Periode 2014-2019 Nila Moloek dalam Rapat Kerja Nasional Indonesia Bersih mengungkapkan bahwa kesehatan masyarakat 40% dipengaruhi oleh lingkungan, 30% dipengaruhi oleh perilaku, 20% dipengaruhi oleh kualitas layanan kesehatan dan 10% pengaruh genetik (turunan), yang artinya kita tidak hanya menuntut kualitas kesehatan yang mumpuni, namun tidak lupa bersama-sama menjaga kualitas lingkungan, butuh kolaborasi yang baik antara semua kalangan agar terwujudnya kualitas lingkungan yang baik.

Indikator lingkungan yang sehat merupakan parameter atau tanda-tanda yang digunakan untuk mengukur kualitas lingkungan dan kondisi ekosistem secara keseluruhan. Indikator ini memberikan gambaran tentang sejauh mana lingkungan berada dalam keadaan yang sehat atau mungkin menghadapi masalah. Berikut adalah beberapa indikator lingkungan yang umum digunakan untuk menilai kesehatan lingkungan:

  1. Kualitas Udara: Indeks kualitas udara, seperti Indeks Kualitas Udara (Air Quality Index/AQI), digunakan untuk mengukur tingkat polusi udara berdasarkan konsentrasi partikel berbahaya seperti PM2.5 dan PM10, ozon, nitrogen dioksida (NO2), dan sulfur dioksida (SO2). Udara yang bersih dan rendah polusi akan mendukung kesehatan sistem pernapasan masyarakat.
  2. Kualitas Air: Parameter seperti konsentrasi bahan kimia berbahaya, nutrien, dan bakteri dalam air dapat menjadi indikator kualitas air. Air bersih dan bebas polusi adalah kunci untuk mendukung kehidupan akuatik dan kesehatan masyarakat yang baik.
  3. Kualitas Tanah: Kualitas tanah dapat diukur melalui parameter seperti kesuburan, kandungan bahan kimia berbahaya, dan tingkat erosi tanah. Tanah yang subur dan bebas polutan mendukung pertanian yang berkelanjutan dan ekosistem daratan yang sehat.
  4. Penggunaan Lahan: Indikator ini mencerminkan bagaimana manusia memanfaatkan dan mengelola lahan. Lahan yang terlindungi, digunakan secara berkelanjutan, dan terjaga ekosistem alaminya dapat menunjang keseimbangan ekologis.
  5. Akses ke Layanan Lingkungan: Indikator ini mencerminkan sejauh mana masyarakat memiliki akses terhadap layanan lingkungan yang memadai, seperti sanitasi, pengelolaan limbah, dan air bersih.
  6. Indeks Keberlanjutan Lingkungan: Indeks ini adalah gabungan dari berbagai indikator di atas dan digunakan untuk mengukur secara holistik tingkat keberlanjutan lingkungan di suatu wilayah.

Penggunaan indikator-indikator ini membantu dalam memantau dan mengevaluasi kondisi lingkungan, serta memberikan dasar untuk mengambil tindakan yang tepat dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan lingkungan yang berdampak pada kesehatan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *