Makin Sesaknya Kota Malang dari Sampah

Teramala.id-Sampah di Kota Malang berada di angka yang mengkhawatirkan, bahkan melebihi rata – rata volume sampah nasional. Di Kota Malang sendiri, rata – rata satu orang penduduk menghasilkan 0,8 kilogram sampah. Dibandingkan statistik nasional di kisaran 0,7 kilogram sampah per orang.

Dalam rilis Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang tahun 2022, terdapat 74 tempat penampungan sampah (TPS) yang di Kelola oleh Pemkot Malang. Angka tersebut naik dibandingkan tahun 2021 yang memiliki 65 TPS. Dengan bertambahnya TPS di Kota Malang sebanding juga dengan volume sampah yang ada.

Dilansir dari radarmalang.jawapos.com Koordinator Umum Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang Much. Zaenuri mengatakan, angka 0,8 kilogram sampah merupakan kajian internal Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang pada tahun ii. Angka rata – rata produksi sampah meningkat dibanding tahun 2018 yang hanya 0,6 kilogram per orang.

Zaenuri mengungkap beberapa faktor pemicu peningkatan produksi sampah khususnya di tahun 2022 dan 2023. Salah satunya adalah mulai ramainya aktifitas masyarakat pasca covid-19. Banyak aktifitas penduduk seperti pernikahan, konser, atau khitan.

“saat pandemic itu angka produksi sampah melandai. Setelah pandemic berakhir, produksi sampah mencapai 880 ton tiap harinya,” tutur Zaenuri dalam wawancaranya dengan radarmalang.jawapos.com.

Zaenuri juga menuturkan, kecamatan yang paling banyak menyumbang sampah yaitu Lowokwaru dan Klojen. Produksi sampah di dua kecamatan itu disebabkan banyaknya rumah makan, mal, hingga perguruan tinggi (PT), baik negeri atau swasta.

“keberadaan warung-warung juga menjadi penyumbang terbanyak produksi sampah. Demikian juga mal dan kampus,” sebut Zaenuri.

Dalam upayanya mengurangi volume sampah di TPA Supit Urang, pihaknya sudah membuat strategi pengurangan sampah dengan melakukan TPS 3R. strategi ini merupakan program pengolahan sampah menggunakan teknologi mesin yang efektif dan efisien.

Di sisi lain, dilansir dari radarmalang.jawapos.com Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan pihaknya telah membahas Peraturan Daerah (Perda) pengurangan sampah. Misalnya mengatur penggunaan plastik di masyarakat.

“Nantinya plastik berbayar di mal itu akan kita kuatkan. Kemudian masyarakat harus membiasakan memilah sampah dari rumah.” tutur Sutiaji.

Disamping itu, dalam liputan times Indonesia, Kepala DLH Kota Malang Wahyu Setianto memprediksi kenaikan sampah pert tahun di Kota Malang mampu mencapai 10 persen. Sampah rumah tangga masih mendominasi.

“Jenis sampah yang dihasilkan dari kegiatan yang ada di setiap rumah warga itu yang dominan naik. Kita bisa lihat jumlah penduduk ikut bertambah dan tingkat konsumsi masyarakat semakin tinggi,” ujar Wahyu.

Menurut Wahyu, penanganan sampah menjadi prioritas pemerintah daerah untuk terus berinovasi dalam pengelolaannya. Hal ini di maksudkan untuk menciptakan lingkungan bersih sesuai pada Peraturan Walikota Kota Malang Nomor 34 Tahun 2018 tentang kebijakan dan strategi daerah pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis.

Mengutip dari timesindonesia.co.id fungsional sanitary landfill yang kini terus di godok oleh Pemkot Malang di prediksi masih bisa membuat Kota Malang bernafas lega hingga 8 tahun ke depan.

Tentu saja Pemkot Malang harus ancang-ancang mencari alternatif dalam pengolahan sampah yang makin naik tiap tahunnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *