Nasib Warga Lakardowo Hidup Berdampingan dengan Limbah

Teramala.id-Sutamah merupakan salah satu warga terdampak limbah B3 yang berasal dari perusahaan PT. PRIA Desa Lakardowo, Mojokerto. Siang itu, dengan senyuman hangatnya menyambut kedatangan tim Teramala.id di rumahnya. Saat ini, Bu Sutamah masih menunggu harapan akan keadilan untuk warga desa yang terdampak B3.

Sejak tahun 2016, Sutamah menggugat perusahaan PT. PRIA untuk ditutup karena membuang limbah pabrik B3 di lahan warga Lakardowo yang menyebabkan warga menderita penyakit kulit yang ditimbulkan oleh limbah pabrik tersebut. Kenangan Sutamah selama berjuang Bersama warga desa masih tergambarkan jelas. Hal itu tampak saat ia menceritakan bagaimana proses mencari keadilan hingga ke Pusat untuk menggugat perusahaan tersebut.

perjuangan Sutamah mencari keadilan hingga hadir di beberapa forum media untuk menyuarakan keadilan bagi desa Lakardowo

Kata dia, sebelum adanya perusahaan PT.PRIA di desa tersebut masih nyaman untuk beraktifitas dan air di desa tersebut masih aman untuk digunakan. Namun sejak dimulainya pembangunan pabrik tersebut di tahun 2010, mulai kelihatan tanda–tanda ada yang tidak beres. Selang 6 tahun kemudian, pada tahun 2016 masyarakat di desa tersebut banyak yang mengalami gangguan kulit seperti gejala gatal-gatal, kemerahan, dan panas seperti terbakar. Di saat itulah Sutamah Bersama warga desa bertemu dengan Lembaga advokasi lingkungan dari Gresik yang bernama Ecoton dan mendapatkan pengawalan langsung untuk meneliti sumber penyakit di desa tersebut.

Berdasarkan pendataan warga desa, tercatat 342 warga mengalami gatal-gatal dan gangguan pernapasan selama 2017-2018. Penyakit tersebut muncul setahun setelah PT. PRIA mendapatkan izin incinerator.

Pada Juli – Desember 2019, total warga sakit meningkat menjadi 742 orang. Angkan ini berdasarkan data warga yang berobat ke klinik perusahaan, belum termasuk yang ke puskesmas atau pelayanan Kesehatan lain.

Sejak PT. PRIA berdiri, lingkungan desa Lakardowo mulai tercemar. Air yang menjadi kebutuhan fundamental kehidupan warga tak lagi layak di gunakan. Begitu pun dengan pertanian, hasil penelitian beberapa Lembaga mendapatkan ada kandungan logam berat yang cukup tinggi.

Penelitian dari sebuah organisasi non pemerintah di Italia mengungkapkan, tanah di sekitar pabrik tercemar logam berat dengan konsentrasi 10 kali lipat dari titik control. Berdasarkan laporan itu, kandungan logam berat diduga berasal dari endapan debu cerobong pabik. Sebagai informasi, PT. PRIA merupakan pabrik yang mengelola limbah medis dan Kesehatan yang berasal dari rumah sakit yang ada di Jawa-Bali.

“Kami mengambil sampel tanah hingga 30 sentimeter di bawah dan menemukan debu mengendap dalam waktu cukup lama. Kemungkinan lain adalah paparan dari timbunan limbah oleh perusahaan,” lewat tulisan laporan organisasi tersebut.

Namun hal yang berbeda dari Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengeluarkan putusan tidak adanya pencemaran yang di lakukan PT. PRIA. Keputusan ini berdasarkan hasil penelitian sampel air tanah di desa Lakardowo. Keputusan ini pun menuai anggapan warga dan Lembaga non pemerintah Ecoton sebagai pengingkaran fakta dan data dari hasil laboratorium yang secara bersamaan antara KLHK dan Ecoton di dua laboratorium milik pemerintah. Keraguan warga atas keputusan KLHK juga berdasarkan pakar yang mempunyai Riwayat kasus persoalan lingkungan di pegunungan Kendeng, Jawa Tengah.

Dugaan pencemaran di desa Lakardowo pun sama dengan hasil penelitian oleh ahli Teknik lingkungan, Ndaru Setyo Rini. Hasil penelitiannya pada 2016 mengindikasikan pencemaran lingkungan oleh perusahaan.

“Masyarakat mengeluhkan air sumur berubah warna dan tidak bisa lagi dikonsumsi. Juga banyak anak-anak yang mengalami sakit kulit sejak awal 2016,” sebutnya.

Dari kondisi itulah Sutamah makin berjuang lebih untuk keadilan desanya. Kualitas air yang memburuk di desanya membuat air bersih menjadi barang yang mahal. Tak hanya untuk di konsumsi, kebutuhan masak, dan lain-lain memaksa warga membeli air bersih. Air sumur hanya untuk mencuci piring dan mandi untuk orang dewasa. Sutamah mendirikan kelompok perempuan yang tergabung dalam Gerakan Perempuan Lakardowo Mandiri (Green Woman) dan Penduduk Lakardowo Bangkit (Pendowo Bangkit). Kelompok ini telah berjuang untuk Lakardowo mulai tahunb 2016 hingga saat ini dan belum mendapatkan kejelasan terhadap pencemaran lingkungan di desa Lakardowo.

Sutamah berharap pihaknya dapat menerima keadaan yang hingga saat ini belum ada kejelasan, walaupun warga desa Lakardowo yang mulai terpolarisasi antara pro dan kontra PT. PRIA. Bertahun-tahun warga Lakardowo hidup berdampingan dengan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *