Pengelolahan Sampah Rumah Tangga, Tanggung Jawab Siapa?

sumber : pinterest.com

Teramala.id-Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah populasi terbesar di dunia dengan total penduduk 270,20 juta penduduk. Dengan jumlah penduduk yang besar pengetahuan penduduk negara kita soal pemilahan sampah organik/non organik dan pengelolahan sampah B3 menjadi hal yang krusial karena sampah menjadi salah satu masalah lingkungan yang paling serius di seluruh dunia. Setiap hari, manusia menghasilkan sejumlah besar sampah yang dapat berdampak negatif pada kesehatan manusia dan lingkungan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memilah sampah dengan cara yang baik dan benar.

Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, yang dimaksud sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat, lebih lanjut, berdasarkan Pasal 2 ayat (4) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah menyebutkan bahwa Sampah Spesifik terdiri atas: Sampah yang Mengandung B3.

Sebagian besar kita beranggapan jika pengelolaan sampah menjadi tanggung jawab pengelolah sampah, padahal kontribusi pemilahan sampah organi dan non organik mulai dari kita sangatlah penting karena dapat mengurangi penumpukan jumlah sampah dan pengelolaan lanjutan yang lebih mudah ditangani oleh pengelola sampah dan menurut penelitian tentang Timbulan Sampah B3 Rumah Tangga oleh Universitas Gadjah Mada, penimbunan sampah B3 (Bahan berbahaya dan beracun) di lingkungan pemukiman dan TPA dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan bagi masyarakat sekitar area pembuangan. Namun di masyarakat kita perilaku pemilahan sampah menurut survei oleh Katadata Insight Center (KIC) terhadap 354 responden di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya pada 28 September hingga 3 Oktober 2019. sebanyak 50,8 persen responden di lima kota besar Indonesia tidak memilah sampah dengan alasan tidak mau repot. Ini membuktikan perlu sosialisasi dan edukasi lebih masif ke masyarakat tantang pentingnya pengelolaan sampah.

Berikut adalah beberapa tips memilah sampah organik dan non-organik:

  1. Ketahui jenis sampah organik dan non-organik Sebelum memilah sampah, pastikan Anda mengetahui jenis sampah organik dan non-organik. Sampah organik adalah sampah yang berasal dari bahan-bahan alami seperti sisa makanan, daun, ranting, dan sebagainya. Sedangkan sampah non-organik adalah sampah yang tidak dapat terurai secara alami seperti plastik, kaca, logam, dan sebagainya.
  2. Gunakan wadah yang terpisah untuk sampah organik dan non-organik Untuk memudahkan proses memilah sampah, gunakan wadah yang terpisah untuk sampah organik dan non-organik. Anda bisa menggunakan wadah plastik atau keranjang sebagai tempat memilah sampah. Pastikan Anda memberikan label pada wadah agar mudah mengidentifikasi sampah organik dan non-organik.
  3. Pisahkan sampah sejak sumbernya Untuk memudahkan proses pengolahan sampah, sebaiknya Anda memilah sampah sejak sumbernya. Misalnya, saat memasak, pisahkan sisa sayuran, kulit buah, dan sisa makanan dari sampah lainnya. Begitu juga dengan sampah non-organik, seperti botol plastik atau kardus, pisahkan dari sampah organik saat Anda membuangnya.
  4. Jangan mencampur sampah organik dan non-organik Penting untuk tidak mencampurkan sampah organik dan non-organik. Jika kedua jenis sampah dicampur, maka proses pengolahannya menjadi sulit dan membutuhkan waktu lebih lama. Selain itu, juga bisa menghasilkan bau yang tidak sedap.
  5. Jadikan kebiasaan sehari-hari Untuk meminimalkan volume sampah, sebaiknya jadikan memilah sampah organik dan non-organik sebagai kebiasaan sehari-hari. Dengan melakukannya secara teratur, Anda akan terbiasa dan menjadikan ini sebagai kebiasaan yang positif untuk lingkungan.

Sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) adalah jenis sampah yang mengandung bahan-bahan kimia berbahaya dan dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan manusia jika tidak dikelola dengan baik. Berikut adalah beberapa tips mengelola sampah B3 rumah tangga:

  1. Ketahui jenis sampah B3 Sebelum membuang sampah B3, pastikan Anda mengetahui jenis-jenis sampah B3 yang ada. Beberapa contoh sampah B3 adalah baterai bekas, obat-obatan kadaluwarsa, cat bekas, pestisida, dan limbah elektronik.
  2. Jangan mencampur sampah B3 dengan sampah rumah tangga biasa Jangan mencampur sampah B3 dengan sampah rumah tangga biasa karena dapat meningkatkan risiko bahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Jika Anda memiliki sampah B3, pisahkan dan simpan dalam wadah yang terpisah untuk memudahkan proses pengelolaannya.
  3. Simpan di tempat yang aman Sampah B3 harus disimpan di tempat yang aman dan terpisah dari sampah rumah tangga lainnya. Pastikan tempat penyimpanannya tertutup rapat dan tidak mudah terbakar, terkena air, atau terpapar sinar matahari langsung.
  4. Buang di tempat pengolahan yang tepat Jangan membuang sampah B3 ke dalam tong sampah biasa atau membuangnya di tempat sampah sembarangan. Pastikan Anda membuangnya di tempat pengolahan sampah yang tepat, seperti di pusat daur ulang atau tempat pengolahan limbah B3.
  5. Ikuti aturan pengelolaan sampah B3 yang berlaku Pastikan Anda mengikuti aturan dan peraturan yang berlaku dalam pengelolaan sampah B3. Beberapa peraturan yang harus diperhatikan adalah cara pengemasan, waktu dan tempat pengumpulan, serta cara pengangkutan sampah B3.
  6. Kurangi penggunaan sampah B3 Langkah terbaik dalam mengelola sampah B3 adalah dengan mengurangi penggunaannya. Misalnya, dengan menggunakan baterai isi ulang atau menghindari penggunaan produk yang mengandung bahan kimia berbahaya

Dengan mengikuti tips di atas, kita dapat mengelola sampah organik dan non organik B3 rumah tangga dengan baik dan aman bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Selain itu, ini juga merupakan upaya kecil yang dapat dilakukan setiap individu dalam menjaga kelestarian lingkungan dan bumi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *