Sedotan Strawbite, Ramah lingkungan dan Bisa Dimakan!

Teramala.id Masalah sampah plastik di Indonesia adalah isu yang serius dan kompleks. Negara ini menghadapi tantangan besar dalam mengelola limbah plastik yang terus meningkat.Produksi dan Konsumsi Plastik di Indonesia merupakan salah satu produsen plastik terbesar di dunia. Tingginya permintaan akan produk plastik dan penggunaan plastik sekali pakai telah menyebabkan peningkatan drastis dalam produksi dan konsumsi plastik di negara ini.

Sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik mencemari lingkungan Indonesia, terutama sungai dan lautan. Sampah plastik yang dibuang ke sungai akhirnya mencapai laut, menyebabkan kerusakan ekosistem laut, merugikan satwa laut, dan mempengaruhi mata pencaharian masyarakat pesisir.

Sedotan plastik adalah tabung kecil yang terbuat dari plastik yang digunakan untuk minum atau menghisap minuman dari gelas atau botol. Namun, saat ini, sedotan plastik menjadi perhatian karena dampaknya yang merugikan terhadap lingkungan. Penggunaan sedotan plastik sudah menjadi perdebatan yang hangat dalam beberapa tahun terakhir karena dampak negatifnya terhadap lingkungan dan kesehatan. Limbah dari sedotan plastik ini berpengaruh terhadap pencemaran laut dan ekosistem, pencemaran tanah, bahaya bagi hewan, kesehatan manusia, ketergantungan terhadap minuman sekali pakai, dan sumber daya alam yang terbuang.

Untuk mengatasi dampak negatif penggunaan sedotan plastik, banyak negara dan komunitas telah mengadopsi larangan atau pembatasan terhadap penggunaan sedotan plastik sekali pakai. Selain itu, menggantikan sedotan plastik dengan alternatif yang ramah lingkungan, seperti sedotan stainless steel atau bambu.

Dilansir dari Jatim.jpnn.com, dalam hal ini Mahasiswa Ubaya membuat terobasan baru yaitu sedotan yang bisa di makan dengan bahan dasar tepung beras dan tepung tapioka. Tim yang bernama Strawbite itu yang terdiri dari empat mahasiswa bernama Alfian Dwi Wahyudi, Clarence Rex Maximilian H, Natasya Octavia, dan Yemima Destaliza Samantha yang di ketuai oleh Alfian Dwi Wahyudi.

Sumber: Instagram Strawbite

Inovasi ini dilatarbelakangi oleh masih banyaknya cafe yang menggunakan sedotan plastik yang dapat mencemarkan lingkungan dan tidak bisa di uraikan kembali. Sedotan ini pun sudah di pamerkan di Ubaya Innovaction Festival (UNNO FEST) Vol 2 pada 13-15 Juni 2023 di Plaza Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Kampus Ubaya Tenggilis. kegiatan ini ialah ajang memperkenalkan barang atau jasa karya Mahasiswa kepada masyarakat dan akan di kembangkan bersama praktisi bisnis untuk produksinya.

Sedotan ini tidak hanya bisa di makan tetapi dapat di urai oleh tanah di karenakan bahan dasarnya yang menggunakan tepung dan air. ketika selesai di pakai sedotan dapat bertahan dengan waktu 3-5 jam setelah itu bisa di makan ataupun dihancurkan dan remahannya bisa ditaburkan ke tanah untuk diserap tanaman.

Sedotan Strawbite ini memiliki panjang 23cm dan diameter 1,5 mm dengan Proses pembuatan sedotan tersebut membutuhkan waktu 25-30 menit sehingga bisa menghasilkan 10 sedotan dan bisa bertahan sampai 40 hari. kedepannya tim Strawbite akan mengembangkan inovasi ini sehingga bisa digunakan dengan minuman yang panas, ditambah perasa,dan memperbanyak warna. sehingga bisa di produksi untuk masal untuk di pakai pribadi ataupun untuk di cafe-cafe.

Mengurangi penggunaan sedotan plastik adalah langkah penting dalam mengurangi polusi plastik dan melindungi lingkungan. Sebagai pengganti sedotan plastik, kita dapat menggunakan sedotan yang dapat digunakan berulang kali ataupun sedotan yang bisa di makan seperti sedotan Strawbite ini, atau lebih baik lagi, meminum langsung dari gelas atau botol tanpa sedotan jika memungkinkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *