Sungai Brantas, Penting Namun Tidak Terjaga

sumber : ngopibareng.id

Teramala.id-Sungai Brantas adalah sungai terpanjang di provinsi Jawa Timur, Indonesia. Sungai ini memiliki panjang sekitar 320 km dan mengalir dari Pegunungan Wilis hingga bermuara di Selat Madura. Karena panjangnya melintasi 17 Kabupaten/Kota di Jawa Timur Sungai Brantas menjadi bagian penting dari Masyarakat Provinsi Jawa Timur. Ratusan ribu nyawa bergantung pada Sungai Brantas, mulai dari ekonomi atau sekedar keperluan hidup sehari-hari, Brantas juga menjadi sumber energi bagi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) yang turut menyuplai pasokan listrik pada sistem pembangkitan Jawa-Bali. Ada belasan PLTA dan PLTMH di sepanjang daerah aliran, antara lain PLTA Lodoyo, PLTA Karangkates, PLTA Kesamben, dan PLTA Jatimlerek. Sedangkan di wilayah hilir, sejak dulu Brantas diandalkan sebagai sumber air bersih bagi masyarakat baik yang dikelola oleh perusahaan daerah air minum (PDAM) maupun secara swakelola. Di daerah hilir, penggunanya antara lain PDAM Surya Sembada Surabaya, PDAM Delta Tirta Sidoarjo, PDAM Kota Mojokerto, Kabupaten Mojokerto, dan Gresik. Daerah-daerah tersebut memang tidak memiliki sumber air pegunungan untuk menyuplai kebutuhan rumah tangga dan dunia usaha termasuk industri dimana 97% air yang dialirkan lewat PDAM berasal dari Sungai Brantas yang menjadikan Sungai Brantas bukan hanya sekedar sungai biasa, namun kunci kestabilan Jawa Timur.

Walaupun sudah diakui fungsinya sangat krusial bagi masyarakat tetap saja sungai brantas tidak terjaga, banyak masalah lingkungan dari skala kecil hingga besar yang perlu diselesaikan. Data Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang menyatakan pencemaran di Sungai Brantas masuk dalam katagori D yang artinya sudah tercemar berat, bahkan di Sungai Brantas ditemukan limbah beracun dan berbahaya mikroplastik. Fakta itu ditemukan Perum Jasa Tirta 1, yang berkantor di Kota Malang, Jawa Timur. Tingkat pencemaran sungai ini telah melebihi batas dan berpengaruh buruk terhadap kehidupan biota perairan serta kesehatan penduduk yang memanfaatkan air sungai. Selain dari limbah domestik dan Industri pencemaran juga berasal dari limbah pertanian, limbah taman rekreasi, limbah pasar, limbah hotel, limbah rumah sakit.

Kondisi makin memprihatinkan karena bantaran DAS Brantas di Jawa Timur mengalami perubahan fungsi. Meski kawasan bantaran sungai telah ditetapkan sebagai kawasan hijau, sebagian besar bantaran sungai beralih fungsi, tidak sesuai peruntukannya, seperti maraknya penambangan pasir ilegal di daerah Tulungagung, kegiatan penambangan pasir ilegal ini telah berlangsung sejak 2006 dan meningkat pada 2019. Data PPLH Mangkubumi menunjukkan, terjadi penurunan dasar Sungai Brantas di wilayah Tulungagung sekitar 4 hingga 7 meter sebelum 2019 dan 5-10 meter setelah 2019 yang menimbulkan bahaya erosi pada sungai yang akan mersuak lingkungan Kawasan hulu hingga hilir.

Permasalahan lingkungan di Sungai Brantas menjadi suatu masalah yang besar dan kompleks, banyak yang solusi yang ditawarkan dan dilakukan oleh banyak pihak, mulai dari LSM sampai pemerintah daerah, namun akan sia-sia jika seluruh elemen masyarakat tidak mendukung dan sungguh menyadari pentingnya Sungai Brantas bagi kehidupan masyarakat Jawa Timur.

Mari mengetahui, sadari dan perbaiki. Brantas masih punya harapan, Jawa Timur masih punya asa.

Penulis : Bimo Adhyaksa

Editor : Admin Teramala.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *