Thrifting, Antara Mengurangi Limbah atau Menambah Masalah

Pada abad ke-19, thrifting mulai menjadi tren di kalangan masyarakat kelas menengah dan atas di Eropa dan Amerika Utara. Pada saat itu, toko-toko barang bekas mulai bermunculan dan menjadi populer di kota-kota besar. Thrifting menjadi cara bagi orang-orang untuk mendapatkan pakaian berkualitas dengan harga lebih murah. Selama periode perang dunia, thrifting menjadi semakin umum karena terbatasnya pasokan pakaian baru dan adanya peraturan penghematan. Orang-orang lebih bergantung pada barang bekas dan melakukan perbaikan pada pakaian yang ada agar tetap bisa digunakan.

Dalam beberapa dekade terakhir, thrifting telah menjadi fenomena yang lebih luas dan mendapatkan popularitas yang besar. Ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti peningkatan kesadaran akan lingkungan dan dampak industri mode terhadap bumi, serta peningkatan minat terhadap gaya dan barang unik. Thrifting juga sering dikaitkan dengan gaya fashion retro dan vintage yang sedang trendi saat ini. Thrifting juga dapat menjadi cara untuk mendukung keberlanjutan lingkungan. Dengan membeli barang bekas, konsumen dapat  membantu mengurangi limbah dan konsumsi sumber daya yang terkait dengan produksi barang baru. Thrifting juga memberikan kontribusi pada keberlanjutan lingkungan dengan memperpanjang siklus hidup pakaian. Dengan membeli baju bekas, konsumen membantu mengurangi limbah tekstil dan mengurangi dampak produksi pakaian baru terhadap lingkungan.

ilustrasi-/limbah-/pakaian-/source:behance.net

Namun jika barang bekas itu impor maka akan menimbulkan masalah yang sama. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 51/M-DAG/PER/7/2015 menjelaskan tentang Larangan Impor Pakaian Bekas. Mengutip dari Fiber2Fashion, pada tahun 2020 sebanyak 18,6 juta ton limbah tekstil di tempat pembuangan dan berakhir di laut. Impor baju bekas juga dapat mengancam industri pakaian lokal. Meskipun thrifting bisa di katakan sebagai alternatif yang berkelanjutan ada risiko bahwa thrifting menjadi pola belanja berlebihan atau implusif. Dengan harga yang murah konsumen akan lebih tertarik untuk membeli dengan skala yang besar dan semakin menambah limbah barang bekas tidak terpakai.

Baju bekas yang di impor mungkin juga memiliki masalah terkait dengan kualitas dan kebersihan. Beberapa baju bekas mungkin mengalami kerusakan atau cacat, sehingga mempengaruhi pengalaman pengguna. Selain itu, kebersihan baju bekas juga menjadi perhatian, karena belum tentu telah di sterilisasi dengan baik atau dapat mengandung risiko kesehatan. pengelolaan limbah baju bekas yang tidak tepat di negara penerima juga dapat menyebabkan polusi lingkungan.

ilustrasi-/toko-/baju-/bekas-/pexels

Bagi pedagang thrifting, impor baju bekas dapat menjadi peluang bisnis yang menguntungkan. Dengan memperoleh baju bekas dari negara lain, mereka dapat menawarkan beragam produk yang unik kepada konsumen mereka. Impor baju bekas juga dapat memberikan pilihan yang lebih luas dan menarik bagi pelanggan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan penjualan dan keuntungan pedagang. Pedagang thrifting juga mengakui bahwa impor baju bekas dapat memberikan aksesibilitas harga kepada konsumen.

Baju bekas sering kali di tawarkan dengan harga yang lebih rendah di bandingkan dengan pakaian baru, sehingga memungkinkan konsumen dengan anggaran terbatas untuk membeli pakaian berkualitas tanpa harus mengeluarkan banyak uang.

“Memang thrifting saya rasa harganya lebih murah, sedangkan jika saya membeli baju dengan merk yang sama bisa mendapat harga yang mahal, selain itu model baju yang di tawarkan lebih unik daripada baju baru. Mungkin dengan membeli barang bekas menurut saya bisa berkontribusi mengurangi limbah barang tak terpakai dan menambah siklus hidup barang.” Ujar Akbar Ramadani sebagai konsumen thrifting.

Thrifting merupakan fenomena yang semakin populer, menawarkan keberlanjutan lingkungan, penemuan gaya pribadi, dan keterjangkauan ekonomi. Namun, penting juga untuk mempertimbangkan dampak negatif impor baju bekas. Dampak lingkungan, dan masalah terkait kualitas serta kebersihan menjadi beberapa hal yang perlu dapat perhatian. Dalam mengembangkan praktik thrifting yang bertanggung jawab, penting untuk mempromosikan produksi lokal yang berkelanjutan, mengoptimalkan pengelolaan limbah, dan memperketat regulasi terkait impor baju bekas. untuk mencapai keseimbangan antara manfaat dan dampak negatif. Dengan menjual atau memakai kembali barang bekas layak pakai kita bisa memperpanjang siklus hidup barang dan megurangi limbah barang atau pakaian bekas yang dapat mencemarkan lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *