Tolak Solusi Daur Ulang, RDF dan Tungku Bakar Melalui Riset dan Aksi

Penanganan Sampah Plastik di Jawa Timur Hasilkan Mikroplastik Paling Tinggi dan Dioksin Nomer 2 se Asia Tenggara, Aktivis Lingkungan Surati Gubernur Jatim

Teramala.id – Surabaya, Jum’at, 4 Agustus 2023, Komunitas Lingkungan Environmental Green Society
bersama Ecoton Foundation, Forum Kali Brantas Kediri, dan Cpy Brantas Universitas
Brawijaya melayangkan surat teguran dan permintaan audiensi kepada Gubernur Jawa
Timur, Ibu Hj. Khofifah Indarparawansa, M.Si tentang penolakan penanganan plastik
dengan solusi daur ulang, RDF, dan tungku bakar. Komunitas tersebut mengajukan surat
aduan tersebut berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan selama bulan Juli 2023
yang menunjukkan bahwa air, sedimen, udara, bahkan makanan yang ada di wilayah
Gresik, Sidoarjo, dan Mojokerto telah terkontaminasi mikroplastik, yaitu hasil degradasi
sampah plastik yang gagal mendapatkan pengelolaan yang baik.
Hasil identifikasi mikroplastik tersebut bahkan mengerucut pada fakta baru, bahwa
mikroplastik telah mengontaminasi makanan komersil yang dipasarkan ke penduduk sekitar.
Padahal, makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia jelas harus bersih dari adanya
sumber kontaminan, “Mikroplastik sebagai cemaran baru telah masuk ke dalam air,
sedimen, udara, bahkan makanan yang kita konsumsi setiap hari.” ungkap Labib selaku
Ketua Komunitas Lingkungan Environmental Green Society. Labib juga menambahkan,
“Mikroplastik berasal dari pabrik daur ulang plastik dan juga sentra industri tahu yang
memanfaatkan sampah plastik sebagai bahan bakar. Ini bisa terjadi karena adanya False
Solution Management yang terus terabai.” Labib mengungkapkan bahwa False Solution
Management atau solusi palsu terkait penanganan sampah yang malah menimbulkan
masalah baru ke lingkungan harus mendapat perhatian lebih dari pemerintah karena
memiliki dampak yang membahayakan manusia dan lingkungan sekitarnya.

Kontaminasi Mikroplastik dan Kadar PM 2.5 yang Melambung Tinggi di Sentra
Produksi Tahu dengan Bahan Bakar Sampah Plastik

Hasil penelitian yang dilakukan anggota Komunitas Lingkungan Environmental
Green Society menunjukkan bahwa mikroplastik telah mengontaminasi produk makanan
komersil, yaitu tahu, di sentra industri tahu Sidoarjo. Tidak hanya itu, mikroplastik juga
ditemukan di udara sekitar industri tersebut. Tingginya mikroplastik yang terakumulasi di
lingkungan disebabkan oleh pembakaran sampah plastik. Sampah plastik yang dibakar di
industri tersebut ternyata tidak sepenuhnya habis, melainkan terdegradasi secara termal
dan melayangkan mikroplastik yang beterbangan di udara dan mengontaminasi produk di
sekitarnya, termasuk tahu. Pemanfaatan produk berbahan plastik yang sangat masif di
industri tersebut juga berkontribusi besar dalam kontaminasi mikroplastik yang dihasilkan.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh peneliti dari komunitas Envigreen Society,
“Mikroplastik yang ditemukan di sentra produksi tersebut disebabkan oleh pemakaian
produk berbahan plastik, seperti bak plastik, drum plastik, gayung plastik, selang plastik,
pipa paralon untuk mengalirkan air, juga kain saringan tahu yang tidak pernah diganti.”
Peneliti itu melanjutkan, “Selain itu, mikroplastik juga dapat berasal dari proses degradasi
plastik yang terjadi secara termal, misalnya pembakaran. Jadi, tungku pembakaran sampah
plastik tersebut akan melayangkan serpihan-serpihan plastik berukuran mikro yang
mengontaminasi produk di sekitarnya.”


Identifikasi mikroplastik yang ada di sentra industri tersebut dilakukan pada empat
lokasi berbeda. Satu lokasi sebagai kontrol, yaitu sentra industri yang memanfaatkan bahan
bakar kayu di Desa Tempel, Krian, Sidoarjo, serta tiga lokasi lain yang memanfaatkan
bahan bakar sampah plastik, baik sampah plastik sachet, tali sepatu, karet ban, kulit sepatu,
dan skrap plastik di Desa Tropodo, Krian, Sidoarjo.

Kontaminasi mikroplastik di kawasan industri tersebut tidak hanya ditemukan pada
tahu, tetapi juga udara sekitarnya, “Bahkan, mikroplastik juga ditemukan di udara tempat
tersebut. Asap tebal mengepul yang dihasilkan oleh pembakaran adalah penyebab
utamanya.” ujar peneliti tersebut. Hasil pembakaran sampah plastik akan menghasilkan
mikroplastik yang berbahaya bagi kesehatan manusia, diantaranya gangguan
keseimbangan hormon, gangguan reproduksi, stress oksidatif, pemicu kanker, translokasi
sel, dan gangguan sistem imun. Selain tungku pembakaran, solusi palsu sampah plastik
juga berasal dari pemanfaatan RDF (Refuse Derived Fuel). RDF adalah hasil pengolahan
sampah yang dikeringkan untuk menurunkan kadar airnya hingga < 25% dan menaikkan
harga kalornya setelah dicacah.


Walaupun RDF digadang-gadang menjadi solusi sampah plastik yang menggunung,
nyatanya RDF malah menimbulkan masalah baru ke lingkungan karena pembakaran
sampah plastik menghasilkan senyawa kimia seperti dioksin, furan, dan karbonmonoksida
yang berbahaya apabila terhirup makhluk hidup. Solusi palsu penanganan sampah plastik
sudah seharusnya dihetikan dan produsen harus beralih ke bahan bakar yang lebih ramah
lingkungan, tapi pertanyaannya, apakah mungkin produsen cepat beralih apabila tidak ada
tindakan tegas dan solusi cerdas dari pemerintah?


Tidak berhenti disitu, peneliti dari komunitas lingkungan Envigreen Society juga
melakukan pengecekan terhadap kadar Particulate Matter (PM) 2.5 di kawasan industri
tersebut. Hasilnya, lokasi yang menggunakan bahan bakar sampah plastik mencapai
ratusan µg/m 3 selama 6 jam. Peneliti dari Envigreen Society mengungkapkan, “Apabila hal
ini terus terjadi dan tidak ada alat pemantau kualitas udara di sekitar wilayah tersebut,
penyakit akan terus berdatangan dan kualitas kesehatan masyarakat akan menurun drastis.
Apakah kita hanya akan pasrah apabila keadaan makin memburuk begini?”

Pabrik Daur Ulang Plastik Sumber Mikroplastik Sungai Brantas

Anggota Komunitas Lingkungan Environmental Green Society juga telah melakukan
penelitian yang mengungkap temuan mengkhawatirkan terkait polusi mikroplastik di Sungai
Brantas. Ternyata, selain data yang ditemukan tim Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN) pada
tahun 2022 tentang kontaminasi mikroplastik sungai Jawa Timur yang berada di posisi
kedua tertinggi di Indonesia (636 partikel/liter), penelitian mikroplastik pada outlet pabrik
daur ulang plastik yang mengalir ke Sungai Brantas menunjukkan hasil yang
mencengangkan. Selama sekitar 1 bulan, peneliti mengambil sampel air dan sedimen di
pabrik daur ulang plastik home industry di kabupaten Sidoarjo dan Mojokerto. Selain itu,
mereka juga mengambil sampel di PT. Harmoni Plastik di Sidoarjo, dan PT. Pelita Mekar
Semesta di Gresik. Tiga titik pengambilan sampel dipilih: sebelum outlet, outlet, dan setelah
outlet limbah pabrik daur ulang plastik di setiap stasiun penelitian. Hasil penelitian
mengejutkan menunjukkan adanya partikel mikroplastik yang signifikan pada outlet limbah
pabrik tersebut.


“Kami terkejut menemukan kontaminasi mikroplastik yang tinggi di sekitar outlet
limbah pabrik daur ulang plastik. Temuan ini memberikan bukti bahwa polusi plastik telah
mencemari air dan lingkungan sekitar Sungai Brantas,” kata salah satu anggota tim
penelitian. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa meskipun pabrik daur ulang plastik
bertujuan untuk mengurangi limbah plastik dan mendaur ulang kembali material,
keberadaan mikroplastik dalam outlet limbah menimbulkan kekhawatiran serius terhadap
keberlanjutan Sungai Brantas dan ekosistemnya.Mikroplastik yang ditemukan dalam
penelitian ini adalah partikel-partikel plastik kecil yang berukuran kurang dari 5 milimeter.

Keberadaannya mencerminkan tingginya tingkat polusi plastik di wilayah tersebut dan
potensi dampaknya pada kehidupan akuatik serta ekosistem sungai.
“Temuan ini mengingatkan kita tentang urgensi pengelolaan limbah plastik secara
bijaksana. Mikroplastik yang masuk ke sungai dapat mempengaruhi kehidupan laut dan
kesehatan manusia jika tidak ditangani dengan baik.” kata salah satu anggota tim penelitian.
“Penting bagi kami untuk menghadapi temuan ini dan mengkomunikasikannya kepada
masyarakat. Dampak mikroplastik dan bahan kimia berbahaya ini pada kesehatan manusia
dan lingkungan tidak bisa diabaikan,” tambah salah satu anggota tim penelitian Chandra
Iman Asrori coordinator Forum Kali Brantas.


Mikroplastik, yang berukuran kurang dari 5 milimeter, dapat dengan mudah masuk
ke dalam tubuh manusia melalui makanan dan minuman terkontaminasi. Dampaknya
termasuk gangguan pencernaan, gangguan sistem kekebalan tubuh, potensi efek endokrin,
dan bahkan efek karsinogenik. Dioksin dan beberapa senyawa kimia berbahaya juga
merupakan bahan karsinogenik dan dapat mengganggu keseimbangan hormon serta sistem
saraf manusia. Para peneliti berharap temuan ini dapat meningkatkan kesadaran akan
pentingnya pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dan perlunya tindakan kolektif
untuk menghadapi masalah polusi plastik.

Gambar 1. Diagram Kelimpahan Mikroplastik pada Tahu dan Udara di Sentra Industri Tahu Desa Tropodo, Krian, Sidoarjo Tahun 2023
Gambar 2. Diagram Kelimpahan Mikroplastik pada Air dan Sedimen Sungai Akibat Limbah Pabrik Daur Ulang Tahun 2023
Gambar 3. Data Penelitian Mikroplastik Tim Ekspedisi Sungai Nusantara Tahun 2022
Gambar 4. Diagram Nilai PM 2,5 pada Udara di Sentra Industri Tahu Desa Tropodo, Krian, Sidoarjo Tahun 2023

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *